Pelatihan Pelaku Didik Kembali Digelar Pasca Ramadhan: Prof. Musakkir Soroti Pentingnya Integritas dan Pendidikan Berasrama


Indramayu - Pelatihan Pelaku Didik kembali dilaksanakan setelah masa cuti panjang selama bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H/2026 M. Kegiatan ini berlangsung khidmat di Masjid Rahmatan Lil Alamin pada Ahad, 5 April 2026, dengan menghadirkan narasumber terkemuka, Prof. Dr. Musakkir, S.H., M.H., Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.

Peserta yang hadir tidak kurang dari 2.500 orang. Mereka terdiri dari eksponen Yayasan Pesantren Indonesia, dosen IAI AL-AZIS, guru, mahasiswa, tenaga kependidikan, santri Aliyah, perwakilan wali santri. Ada juga dari unsur tim pembangunan, tenaga kesehatan, keamanan, petani yang tergabung dalam P3KPI, kebersihan lingkungan, karyawan, dan lain sebagainya.

Dalam pengantar materinya, Prof. Musakkir menyampaikan pandangan dan apresiasi terhadap sosok Syaykh Al-Zaytun, Prof. Abdussalam Panji Gumilang, M.P. Ia mengaku telah mengenal nama tersebut sejak menempuh pendidikan S2, sehingga sosok Syaykh Panji Gumilang bukanlah hal baru baginya. Menurutnya, bangsa Indonesia patut bersyukur memiliki tokoh dengan pemikiran visioner di bidang pendidikan.

Rektor IAI AL-AZIS, Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS., M.B.A., C.R.B.C.  (tengah) menyimak materi yang disampaikan narasumber

Ia juga menilai Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, M.P., sebagai agent of change atau tokoh perubahan, khususnya dalam dunia pendidikan. “Bangsa ini membutuhkan figur-figur revolusioner seperti beliau jika ingin maju, termasuk dalam bidang penegakan hukum,” ungkapnya di hadapan para peserta.

Lebih lanjut, Prof. Musakkir menegaskan bahwa kehadirannya bukan untuk menggurui, melainkan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Ia juga memberikan penghormatan khusus kepada para “petani intelektual” di lingkungan Al-Zaytun, yang menurutnya merupakan konsep luar biasa karena menggabungkan pendidikan dengan kemandirian masyarakat.


Ia mengapresiasi sistem pendidikan di Al-Zaytun yang tidak hanya fokus pada pembelajaran formal, tetapi juga mendorong seluruh elemen masyarakat untuk berpendidikan. Selain itu, kemandirian lembaga pendidikan yang tidak membebani pemerintah dinilai sebagai contoh ideal yang patut ditiru oleh lembaga lain di Indonesia.

Dalam pemaparannya, Prof. Musakkir juga berbagi pengalaman sebagai asesor di Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Ia menceritakan pengalamannya saat melakukan akreditasi di sebuah perguruan tinggi di pelosok Papua yang memiliki keterbatasan fasilitas. Namun, demi keberlangsungan akses pendidikan bagi masyarakat setempat, ia tetap berani memberikan akreditasi agar lembaga tersebut tidak ditutup.

Syaykh Al-Zaytun berbincang dengan Prof. Musakkir

Menurutnya, pemerintah seharusnya memberikan penghargaan kepada masyarakat yang berinisiatif mendirikan lembaga pendidikan, terutama di daerah, bukan justru menghambat. Ia pun menilai bahwa apa yang dilakukan di Al-Zaytun telah mencerminkan fungsi sosial pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang, yakni memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

Memasuki inti materi, Prof. Musakkir mengangkat tema “Membangun Penegakan Hukum yang Berintegritas Melalui Pendidikan Berasrama”. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan penegakan hukum ditentukan oleh tiga unsur utama dalam sistem hukum, yaitu struktur hukum, substansi hukum, dan budaya hukum .

Ia menekankan pentingnya membangun struktur hukum yang kuat dan berintegritas, yang mencakup independensi, transparansi, akuntabilitas, serta profesionalisme aparat penegak hukum. Selain itu, integritas pribadi seperti kejujuran, keteladanan, dan keberanian menjadi kunci utama dalam menciptakan penegakan hukum yang adil dan efektif.

Rektor IAI AL-AZIS (kanan) berbincang dengan Prof. Mussakir usai acara

Dalam konteks pendidikan, ia menegaskan bahwa sistem pendidikan berasrama memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Melalui pendidikan ini, nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, kemandirian, serta integritas dapat ditanamkan secara kuat sejak dini.

“Pendidikan berasrama mampu melahirkan individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kekuatan moral dan spiritual dalam menegakkan hukum,” jelasnya.

Di akhir penyampaian, Prof. Musakkir menegaskan bahwa integrasi antara hukum, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan spiritualitas akan menjadi fondasi penting dalam membangun masa depan Indonesia yang berkeadilan dan berintegritas.

Pelatihan ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan semangat para pelaku didik untuk terus mengembangkan diri, sekaligus menanamkan kesadaran hukum dan karakter unggul dalam kehidupan sehari-hari. Redaksi

Posting Komentar untuk "Pelatihan Pelaku Didik Kembali Digelar Pasca Ramadhan: Prof. Musakkir Soroti Pentingnya Integritas dan Pendidikan Berasrama"