Indramayu, 29 Januari 2026 - Rektor Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS) Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS., M.B.A., C.R.B.C., menegaskan bahwa kegiatan sosialisasi kampus ke sekolah menengah tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai ajang promosi penerimaan mahasiswa baru. Sosialisasi harus menjadi ruang dialog pendidikan yang beradab, terbuka, dan bertanggung jawab sebagai bagian dari kebijakan penguatan sumber daya manusia.
Penegasan tersebut disampaikan Rektor dalam briefing kepada dosen pembimbing lapangan (DPL), panitia, dan perwakilan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebelum pelaksanaan sosialisasi ke SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah di wilayah lokasi KKN.
Dalam arahannya, Rektor menempatkan dosen—terutama dekan dan ketua program studi—sebagai aktor utama sosialisasi. Ia menilai, kegiatan ini merupakan bagian dari tugas akademik sehingga tidak tepat jika sepenuhnya dibebankan kepada panitia atau unit kemahasiswaan.
“Ini kegiatan akademik. Dekan dan kaprodi harus turun langsung, bukan sekadar simbol,” ujar Rektor.
Menurutnya, kehadiran pimpinan akademik di lapangan penting untuk membangun kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan tinggi. Sosialisasi diposisikan sebagai perpanjangan fungsi tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam menjembatani pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Rektor juga menekankan etika komunikasi dalam sosialisasi. Setiap penyampai materi diminta menjaga adab, menyampaikan salam hormat dari pimpinan kampus, serta menampilkan sikap percaya diri tanpa sikap defensif. Pertanyaan kritis maupun isu sensitif yang berkembang di masyarakat, termasuk yang menyangkut persepsi terhadap Al-Zaytun, diminta dihadapi secara tenang dan proporsional.
“Jangan menghindar, jangan reaktif. Jawab dengan konteks pendidikan dan argumentasi yang jelas,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa perguruan tinggi sebagai institusi publik harus siap diuji secara terbuka. Transparansi dan konsistensi, menurutnya, merupakan prasyarat kepercayaan masyarakat.
Dalam aspek substansi, Rektor mendorong agar materi sosialisasi tidak disampaikan secara normatif dan kaku. Lingkungan kampus IAI AL-AZIS perlu diperkenalkan secara utuh, mencakup kehidupan akademik, keberagaman latar belakang dosen dan mahasiswa, serta aktivitas nonakademik seperti seni, olahraga, pertanian, dan peternakan.
Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan karakter generasi muda yang semakin plural. Kampus, kata Rektor, harus dipahami sebagai ruang pembentukan manusia seutuhnya, bukan semata tempat perkuliahan formal.
Sosialisasi juga diarahkan untuk membangun citra akademik yang realistis dan dapat diverifikasi. Keberagaman mahasiswa dari berbagai daerah dan latar belakang dosen nasional maupun internasional disebut sebagai modal penting dalam membangun kepercayaan terhadap kualitas institusi.
Dalam konteks kebijakan nasional, Rektor mengaitkan kegiatan ini dengan agenda pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh bersikap pasif menunggu kebijakan negara, tetapi harus aktif menjangkau dan membina calon mahasiswa sejak pendidikan menengah.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Pendidikan tinggi harus hadir dan mengambil peran,” ujarnya.
Rektor juga menekankan pentingnya kolaborasi yang terencana antara kampus dan sekolah. Sosialisasi harus memiliki tindak lanjut dan mekanisme evaluasi, bukan sekadar mencatat jumlah kunjungan. Target yang dipasang pun realistis: dari setiap sekolah cukup beberapa siswa yang benar-benar berminat dan siap dibina sebagai titik awal penguatan jejaring akademik.
Briefing ini menandai pergeseran pendekatan rekrutmen mahasiswa IAI AL-AZIS dari pola promosi konvensional menuju model dialogis dan berbasis kebijakan. Dalam kerangka tersebut, sosialisasi ditempatkan sebagai strategi jangka panjang pembangunan pendidikan, bukan aktivitas sesaat. (Redaksi)


Posting Komentar untuk "Rektor IAI AL-AZIS Dorong Sosialisasi Kampus Jadi Dialog Pendidikan"