Ujian selalu identik dengan ketegangan. Ruang menjadi sunyi, wajah-wajah menegang, dan waktu seolah bergerak lebih cepat dari biasanya.
Bagaimana jika justru senyum dan keceriaan menjadi pintu
masuk bagi pikiran yang jernih? Di sinilah paradoks itu bermula: ujian yang
berat, dihadapi dengan kegembiraan.
Senin, 5 Januari 2026, Ujian Akhir Semester (UAS) resmi
dimulai di IAI Al Zaytun Indonesia. Selama empat hari ke depan, hingga Kamis, 8
Januari 2026, mahasiswa akan memasuki fase evaluasi akademik yang kerap
dipersepsikan sebagai penentu segalanya.
Di hari pertama itu, mahasiswa Program Studi HES semester
V mengikuti ujian mata kuliah Masā’il Fiqhiyyah Ekonomi pada jam pertama. Ujian
yang diampu oleh Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME.
tersebut dilaksanakan di ruang tribun.
Sebelum lembar soal dibagikan, ada jeda yang tidak biasa,
jeda untuk berpikir, merenung, dan memaknai. Dr. Ali mengajak untuk memaknai
UAS secara komprehensif.
UAS sebagai Cermin Pendidikan
Dalam pandangan ilmu pendidikan, Ujian Akhir Semester
sejatinya adalah instrumen evaluasi hasil belajar. Ia tidak dirancang untuk
mengukur seberapa banyak mahasiswa menghafal materi, melainkan sejauh mana
capaian pembelajaran (learning outcomes) yang telah dirumuskan dalam kurikulum
benar-benar terwujud.
UAS menguji penguasaan pengetahuan, menilai sikap dan
nilai yang terbentuk selama proses perkuliahan, serta mengasah keterampilan
berpikir kritis dan pemecahan masalah. Karena itu, secara pedagogis, UAS bukan
hanya cermin bagi mahasiswa, tetapi juga cermin bagi dosen dan sistem
pembelajaran.
Ketika hasil ujian rendah, yang patut direfleksikan bukan
hanya kesiapan mahasiswa, melainkan juga strategi mengajar, metode
pembelajaran, relevansi materi, hingga sistem penilaiannya.
Inilah sebabnya UAS pada hakikatnya adalah alat refleksi
akademik, bukan alat penghukuman.
Ujian dan Kematangan Psikologis
Namun ujian tidak pernah berhenti pada aspek kognitif.
Dalam perspektif psikologi pendidikan, UAS adalah situasi evaluatif yang sarat
muatan emosional. Ia memicu kecemasan, membangkitkan motivasi, sekaligus
menguji konsep diri mahasiswa.
Dr. Ali menyadari hal ini. Karena itu, ia mengajak
mahasiswa untuk menghadapi UAS dengan gembira dan keceriaan, tentu dengan
persiapan materi yang matang. Dalam psikologi, emosi positif terbukti membuat
pikiran lebih terbuka, menurunkan tekanan, dan membantu fungsi kognitif bekerja
lebih optimal. Pikiran yang tidak tertekan lebih mudah mengingat, menganalisis,
dan menyusun jawaban secara runtut.
UAS, dengan demikian, bukan hanya menguji pengetahuan,
tetapi juga ketahanan mental, regulasi diri, dan kedewasaan emosi. Mahasiswa
yang matang secara psikologis tidak melihat ujian sebagai ancaman, melainkan
sebagai tantangan belajar.
UAS sebagai Institusi Sosial
Lebih jauh, dalam perspektif ilmu sosial, UAS adalah
institusi sosial dalam sistem pendidikan tinggi. Ia menjadi mekanisme yang
mengatur kelulusan, menentukan prestasi, dan memberi legitimasi akademik. Nilai
ujian sering kali dipersepsikan sebagai ukuran kecerdasan, bahkan penentu masa
depan.
Di masyarakat yang masih sangat menekankan prestasi
akademik, UAS membawa dampak sosial yang besar: tekanan keluarga, gengsi
intelektual, hingga peluang kerja. Karena itu, ujian bukan peristiwa individual
semata, melainkan ruang pertemuan antara pendidikan, budaya, dan struktur
sosial.
Senyum Sebelum Soal Dibaca
Kesadaran itulah yang membuat Dr. Ali mengajak mahasiswa
berfoto bersama sebelum ujian dimulai. Sebuah gestur sederhana, tetapi sarat
makna. Foto itu bukan sekadar dokumentasi, melainkan simbol bahwa ujian adalah
bagian dari perjalanan belajar yang manusiawi, bukan momok yang menakutkan.
Di ruang tribun, UAS dimulai bukan dengan ketegangan,
tetapi dengan kebersamaan dan senyum. Sebuah pesan diam-diam pun menguat: ilmu
tidak tumbuh dalam ketakutan, tetapi dalam ketenangan dan kesadaran.
UAS: Lebih dari Sekadar Nilai
Jika dirangkum, Ujian Akhir Semester bagi mahasiswa
adalah sebuah evaluasi capaian belajar secara akademik, sebuah ujian kesiapan
mental dan konsep diri secara psikologis, serta mekanisme legitimasi dalam
sistem sosial pendidikan.
Karena itu, hakikat UAS bukan semata soal lulus atau
tidak lulus, tetapi proses pembelajaran tentang tanggung jawab, kejujuran
akademik, ketahanan mental, dan kedewasaan berpikir. Ia adalah latihan awal
bagi mahasiswa untuk menghadapi ujian-ujian yang jauh lebih besar dalam
kehidupan.
Penulis: Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME. (Dosen HES IAI AL-AZIS)



Posting Komentar untuk "Ketika Ujian Bukan Sekadar Menguji Ingatan, Tetapi Kedewasaan"