Mananamkan Trilogi Kesadaran: Indonesia Raya Menggema di Ruang Ujian


Hari kedua, 6 Januari 2026 Ujian Akhir Semester (UAS) Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 
Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS) dilaksanakan. Mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah Semester V mengikuti ujian Mata Kuliah Sistem Ekonomi Islam yang diampu Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME.

Apakah ujian hanya tentang angka di kertas jawaban atau tentang siapa kita setelah keluar dari ruang kelas ujian? Pertanyaan itu menggelitik kesadaran, bahkan sebelum pena menari di atas lembar ujian.

Ujian Akhir Semester (UAS) di IAI AL-AZIS tidak sekadar menguji hafalan. Di ruang akademik, tempat nalar diuji dan nurani diasah, Indonesia Raya berkumandang tiga stanza sebelum ujian dimulakan.

Ini bukan seremonial kosong. Ia menjadi pintu masuk bahwa ujian sebagai proses penyadaran kebangsaan dan kemanusiaan.

Konsistensi menanamkan kebangsaan lewat Indonesia Raya tiga stanza menegaskan satu pesan: ilmu lahir dari tanggung jawab pada negeri. Sebelum soal dibuka, kesadaran dibangunkan bahwa setiap jawaban memiliki implikasi sosial.

 


Dari Ruang Kelas ke Luka Ekologis Sumatera

Selain menanamkan kebangsaan melalui lagu Indonesia Raya, mahasiswa diajak menatap peristiwa mutakhir, deforestasi di Sumatera. Bencana alam yang bukan hanya menimbulkan kerugian harta, melainkan ribuan nyawa, ratusan hilang, dan trauma psikologis yang panjang.

Di sinilah ekonomi diuji. Produktivitas lahan yang dikejar tanpa kalkulasi ekologis, ironisnya sering berizin, justru menjadi pemantik kerusakan. Pertanyaan pun tajam: ekonomi untuk apa, dan siapa yang diabaikan?

Ujian mengantar mahasiswa pada trilogi kesadaran sebagaimana yang digagas Syaykh Al Zaytun; kesadaran filosofis, kesadaran ekologis, dan kesadaran sosial.

Kesadaran filosofis, Kesadaran filosofis: memahami apa, mengapa, bagaimana, dan untuk apa ekonomi Islam dipelajari. Kesadaran ekologis: ekonomi bukan merusak, melainkan menjaga keseimbangan alam. Kesadaran sosial: hilirnya adalah keadilan dan kesejahteraan (falah) kini dan mendatang, duniawi dan ukhrawi.

 


Maqashid Syariah Sebagai Kompas Ujian

Mahasiswa diminta mengaitkan analisis dengan tujuan utama syariat: hifdz ad-din, hifdz an-nafs, hifdz al-‘aql, hifdz an-nasl, dan hifdz al-mal.

Ujian menjadi kompas etik: bagaimana peningkatan produktivitas berbanding lurus dengan kelestarian alam dan keadilan ekonomi bukan saling meniadakan.

Lebih dari jawaban, mahasiswa diajak berkontribusi secara intelektual: merumuskan jalan tengah antara produktivitas dan keberlanjutan. Di sinilah ekonomi Islam diuji keluhurannya, apakah ia hadir sebagai solusi atau sekadar retorika.

Pada akhirnya, UAS dipahami sebagai proses internalisasi nilai. Seperti firman-Nya: “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala” (Al-Mulk): agar tampak siapa yang paling baik amalnya.

Maka, ketika Indonesia Raya usai menggema dan lembar jawaban dikumpulkan, satu kesadaran tertinggal: ilmu yang lulus adalah ilmu yang memihak kehidupan.

Penulis: Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME (Dosen IAI Al-AZIS)

Posting Komentar untuk "Mananamkan Trilogi Kesadaran: Indonesia Raya Menggema di Ruang Ujian"