Selasa, 6 Januari 2026, Ujian Akhir Semester (UAS) Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) semester III, untuk mata kuliah Kewirausahaan Sosial Bahasa Arab. Mata kuliah yang Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., ME., diujikan tidak seperti biasanya, namunujian yang berangkat dari bita, bukan cemas
Berbeda dari ujian konvensional, ujian ini dirancang
mengacu langsung pada Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL). Tiga capaian utama
menjadi kompas pembelajaran sekaligus penilaian.
Pertama, CPL 2, kemampuan melaksanakan pembelajaran dan
evaluasi yang kreatif, adaptif, dan inklusif. Kedua, CPL 7, kemampuan
menciptakan program edukatif berbasis budaya damai dan nilai-nilai keislaman. Ketiga,
CPL 8, kemampuan berwirausaha di bidang pendidikan Bahasa Arab melalui produk
digital atau pelatihan.
Ujian tidak lagi menguji seberapa kuat mahasiswa
menghafal teori, melainkan sejauh mana mereka mampu menghidupkan ilmu.
Suasana ruang ujian pun berubah. Tidak ada wajah pucat karena soal sulit, tidak ada bunyi halaman dibolak-balik dengan panik. Mahasiswa dibagi ke dalam tiga kelompok, masing-masing diminta menyusun proposal pendirian wirausaha pendidikan Bahasa Arab, lengkap hingga prototype produknya.
Ujian menjelma diskusi. Soal berubah menjadi gagasan. Dan
mahasiswa, tanpa disadari, sedang belajar menjadi pelaku perubahan.
Produk utama yang ditawarkan adalah worksheet dan modul
Bahasa Arab yang dirancang menarik, menyenangkan, dan ramah anak. Dengan fitur
interaktif serta harga yang sangat terjangkau, proyek ini membuka akses belajar
bagi lapisan masyarakat terbawah. Sebuah ikhtiar kecil yang menyimpan dampak
sosial besar.
Kelompok kedua, dipimpin Halil Fadhilah, melangkah lebih futuristik melalui Digital Arabic Academy. Mereka memanfaatkan film kartun populer yang digemari anak-anak, lalu mengolah dialognya menjadi Bahasa Arab dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
Tak berhenti di situ, setiap dialog dilengkapi teks
kosakata penting, sehingga tontonan berubah menjadi pembelajaran. Anak-anak
tidak merasa sedang belajar, padahal sedang menyerap bahasa baru dengan cara
yang mereka sukai.
Kelompok ketiga, di bawah kepemimpinan Fadli
Hidayatussalam, menghadirkan proyek “Nata’allam”. Produk ini berupa e-book
berisi narasi sederhana dalam Bahasa Arab yang diperkuat ilustrasi relevan.
Melalui platform digital, “Nata’allam” menawarkan
pembelajaran yang ringan, visual, dan mudah dipahami. Bahasa Arab tidak lagi
terasa asing, melainkan dekat dan bersahabat.
Di titik ini, ujian tak lagi berfungsi sebagai alat untuk
memperoleh nilai semata. Ia menjelma cermin refleksi, sejauh mana pendidikan
mampu melahirkan insan kreatif, solutif, dan berdaya guna bagi masyarakat.
Mungkin inilah makna ujian yang sesungguhnya. Bukan untuk
membuat mahasiswa takut gagal, tetapi untuk memberanikan mereka bermimpi dan
bertindak. Ketika ujian dirancang selaras dengan capaian pembelajaran, maka
yang lahir bukan sekadar nilai di transkrip, melainkan benih masa depan.
Penulis: Dr Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME. (Dosen IAI AL-AZIS)




Posting Komentar untuk "UAS PBA: Membangun Project Bisnis Digital Bahasa Arab"