Indramayu, 10 Juni 2026 — Seminar Internasional bertema “Theology and Popular Culture” yang diselenggarakan oleh Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS) mendapat apresiasi dari para narasumber yang hadir. Salah satunya disampaikan oleh Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed. yang menilai tema seminar tersebut sangat kontekstual dan relevan dengan tantangan kehidupan generasi muda saat ini.
Seminar
internasional yang menghadirkan tiga profesor, yaitu Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah,
M.Ed., Prof. Dr. Idzam Fautanu, M.A., dan Prof. Dr. Joshua David Hollmann,
Ph.D. tersebut membahas hubungan antara nilai-nilai teologis dengan
perkembangan budaya populer yang semakin masif di era digital.
Dalam Podcast
IAI AL-AZIS usai seminar, Prof. Aan Hasanah menjelaskan bahwa budaya populer
saat ini menjadi realitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan generasi
muda, khususnya Generasi Z yang tumbuh bersama teknologi digital dan media
sosial.
“Tema ini
menemukan konteksnya. Nilai-nilai teologis harus mampu berdialog dengan
realitas zaman. Hari ini kita hidup dalam budaya populer yang sangat masif dan
menjadi konsumsi harian generasi muda. Karena itu, pembahasan seperti ini
sangat penting dan mendesak,” ujarnya.
Menurutnya,
jumlah Generasi Z yang sangat besar di Indonesia menjadikan penguatan nilai dan
moral sebagai kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Ia mengingatkan bahwa generasi
muda membutuhkan kompas moral agar mampu menghadapi derasnya arus informasi dan
budaya instan yang hadir setiap hari melalui berbagai platform digital.
"Kalau
misalnya para Gen-Z ini kehilangan kompas moral untuk menggaet kehidupan yang
sangat instan ini, itu tidak terbayanglah peradaban yang seperti apa nanti
10-15 tahun ke depan," tambahnya
“Jika generasi
muda kehilangan kompas moral dalam menghadapi kehidupan yang serba instan ini,
maka kita perlu khawatir terhadap wajah peradaban 10 hingga 15 tahun ke depan,”
tambahnya.
Forum Akademik Sebagai Ruang Dialog Intelektual
Prof. Aan juga
menegaskan pentingnya penyelenggaraan forum akademik internasional di
lingkungan perguruan tinggi Islam. Menurutnya, perguruan tinggi harus kembali
menghidupkan fungsi-fungsi tradisionalnya sebagai pusat pengembangan ilmu
pengetahuan, dialog intelektual, dan lahirnya para pemikir serta ilmuwan.
Ia
mengungkapkan bahwa salah satu tantangan pendidikan saat ini adalah
kecenderungan masyarakat memperoleh informasi secara instan tanpa melakukan
verifikasi terhadap sumber-sumber yang kredibel.
“Perguruan
tinggi harus menjadi ruang yang menghidupkan budaya membaca, berdiskusi,
meneliti, dan berpikir kritis. Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen
informasi yang belum jelas kebenarannya,” ujarnya.
Hasil Seminar
Perlu Masuk ke Kurikulum
Lebih lanjut,
Prof. Aan menekankan bahwa hasil-hasil seminar internasional tidak boleh
berhenti sebagai wacana akademik semata. Ia mendorong agar gagasan yang lahir
dari seminar dapat diimplementasikan dalam kurikulum, penguatan sumber daya
manusia, serta budaya kampus.
Menurutnya,
nilai-nilai toleransi, perdamaian, keterbukaan berpikir, dan kemampuan
berdialog harus menjadi karakter yang dibangun di lingkungan pendidikan.
“Mahasiswa
harus memiliki paradigma terbuka, siap berdialog, dan terbiasa menelusuri
sumber informasi yang valid. Literasi digital dan literasi informasi menjadi
kebutuhan utama agar tidak terjebak pada informasi-informasi yang tidak
bermanfaat,” jelasnya.

Foto bersama crew Podcast IAI AL-AZIS
Kagum dengan
Konsep Kemandirian Al-Zaytun
Selain
mengikuti seminar, Prof. Aan juga berkesempatan meninjau berbagai fasilitas
yang berada di kawasan Al-Zaytun. Ia mengaku terkesan dengan konsep
self-sufficient atau kemandirian yang diterapkan di kawasan tersebut.
Menurutnya,
Al-Zaytun merupakan miniatur kemandirian yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan
secara mandiri melalui pengelolaan pendidikan, pertanian, dan berbagai sektor
pendukung lainnya.
“Konsep
self-sufficient di Al-Zaytun sangat menarik. Banyak kebutuhan dapat dipenuhi
dari dalam kawasan sendiri. Ini menjadi contoh yang baik tentang bagaimana
sebuah lembaga membangun kemandirian,” tuturnya.
Dorong IAI
AL-AZIS Menjadi Universitas
Dalam
kesempatan tersebut, Prof. Aan juga memberikan pandangannya mengenai masa depan
IAI AL-AZIS. Ia menilai perguruan tinggi Islam saat ini dituntut mampu
berkompetisi sekaligus berkolaborasi dalam era transformasi digital. Redaksi
Menurutnya,
institusi pendidikan yang mampu bertahan adalah yang memanfaatkan teknologi
informasi secara optimal dalam proses pembelajaran, pengelolaan institusi,
maupun komunikasi publik.
Ia bahkan
menyampaikan harapan agar IAI AL-AZIS terus berkembang dan bertransformasi
menjadi universitas.
“Pesan saya
sederhana dan realistis, segera menjadi universitas. Tambah fakultas dan
perluas layanan pendidikan agar semakin banyak masyarakat yang dapat merasakan
manfaat budaya akademik yang dibangun di sini,” ujarnya.
Pentingnya
Kolaborasi Internasional
Terkait
pengembangan perguruan tinggi, Prof. Aan menekankan pentingnya jejaring dan
kolaborasi internasional. Menurutnya, perguruan tinggi harus mampu membaca
perkembangan dunia sekaligus memperkenalkan dirinya kepada dunia internasional.
Ia merangkum
strategi pengembangan tersebut melalui konsep TNIK (Teamwork, Network,
Innovation, and Collaboration).
“Perguruan
tinggi harus membaca dunia agar dapat dibaca dunia. Karena itu, kerja sama
internasional perlu terus diperluas melalui penguatan tim, jaringan, inovasi,
dan kolaborasi,” katanya.
Membangun
Karakter, Literasi, dan Kompetensi
Menutup
perbincangan dalam Podcast IAI AL-AZIS, Prof. Aan Hasanah berpesan kepada para
santri, mahasiswa, dan seluruh sivitas akademika Al-Zaytun agar tidak hanya
mengejar pengetahuan, tetapi juga membangun karakter, literasi, dan kompetensi
yang kuat.
“Jadilah
pribadi yang hebat, bukan karena pengetahuannya, tetapi karena good
karakternya, good literasinya dan good kompetensinya,” pesannya.
Seminar
Internasional “Theology and Popular Culture” menjadi salah satu langkah
strategis IAI AL-AZIS dalam memperkuat peran perguruan tinggi Islam sebagai
pusat pengembangan ilmu pengetahuan, dialog lintas budaya, serta pembentukan
generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai
moral dan teologis yang menjadi fondasi kehidupan. Redaksi


Posting Komentar untuk "Literasi, Karakter, dan Kompetensi: Tiga Pilar Peradaban Menurut Prof. Aan Hasanah"