Prof. Joshua David Hollmann: Al-Zaytun Menjadi Ruang Dialog Lintas Agama yang Menginspirasi


Indramayu
– Seminar Internasional bertajuk “Theology and Popular Culture” yang diselenggarakan Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS) pada 10 Juni 2026 meninggalkan kesan mendalam bagi salah satu narasumber internasional, Prof. Dr. Joshua David Hollmann, Ph.D., akademisi dari Concordia University.

Dalam wawancara Podcast IAI AL-AZIS usai kegiatan seminar, Prof. Hollmann mengungkapkan kekagumannya terhadap sistem pendidikan Al-Zaytun yang menurutnya mampu memadukan pendidikan, keterampilan, dan semangat keterbukaan dalam membangun dialog antarumat beragama.

“Saya sangat terkesan dengan sistem pendidikan yang ada di sini. Saya juga terkesan dengan keterbukaan Al-Zaytun yang mengundang umat Kristen untuk hadir dan berdialog mengenai Kekristenan. Hal itu sangat mengesankan bagi saya,” ujarnya.

Prof. Dr. Joshua David Hollmann, Ph.D., dari Concordia University, USA

Seminar Internasional tersebut menghadirkan sejumlah akademisi terkemuka, yakni Prof. Dr. Aan Hasanah, M.Ed., Prof. Dr. Idzam Fautanu, M.A., Prof. Dr. Joshua David Hollmann, Ph.D., serta narasumber dari IAI AL-AZIS, Dr. Irvan Iswandi, S.E., M.T..

Dalam pemaparannya, Prof. Hollmann menyampaikan perspektif Kristen mengenai hubungan antara teologi dan budaya populer. Menurutnya, keterlibatan umat beragama dalam kehidupan budaya harus didasarkan pada nilai kasih kepada Tuhan dan sesama manusia.

“Bagi umat Kristen, semuanya didasarkan pada kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. Saya pikir jembatan yang dapat dibangun umat Kristen adalah kasih kepada semua orang,” jelasnya.

Tidak hanya terkesan dengan forum akademik yang berlangsung, Prof. Hollmann juga mengaku kagum terhadap berbagai fasilitas dan aktivitas yang dijalankan di lingkungan Al-Zaytun. Ia menyebut bahwa ekspektasinya terhadap kunjungan ini bukan hanya terpenuhi, tetapi bahkan terlampaui.

“Saya sangat terkesan ketika melihat pembangunan kapal yang dilakukan para pemuda di sini. Begitu juga dengan sektor pertanian dan seluruh sistem pendidikan yang ada. Itu sesuatu yang luar biasa,” ungkapnya.

Menurut Prof. Hollmann, salah satu kekuatan utama seminar ini adalah terciptanya dialog yang terbuka, jujur, dan penuh penghormatan antara peserta yang berasal dari latar belakang agama yang berbeda.

Shafa' Fikriyah Z., mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam mewawancara Prof. Joshua David Hollmann

“Dialog yang berlangsung sangat terbuka dan sangat jujur. Kami dapat menyampaikan pandangan Islam dan pandangan Kristen dengan penuh rasa hormat satu sama lain. Itu sangat baik,” katanya.

Ia juga menegaskan pentingnya membangun saling pengertian di tengah masyarakat global yang semakin beragam. Baginya, toleransi tidak cukup hanya diwujudkan dalam sikap saling menerima, tetapi juga harus berkembang menjadi semangat saling mengasihi dan menghormati sesama manusia.

Selama berada di Al-Zaytun, Prof. Hollmann merasakan suasana yang penuh toleransi dan penghargaan. Ia melihat adanya budaya hormat yang kuat di kalangan dosen, staf, maupun mahasiswa.

“Menurut pengalaman saya, tempat ini sangat toleran. Saya sangat menghargai bagaimana Anda semua menerima kehadiran saya. Saya melihat adanya rasa hormat yang tinggi di antara dosen, staf, dan mahasiswa,” tuturnya.

Ketika ditanya mengenai potensi Al-Zaytun di tingkat internasional, Prof. Hollmann menyampaikan optimismenya. Ia berharap Al-Zaytun terus berkembang sebagai pusat pendidikan dan dialog lintas agama yang mampu menjangkau komunitas global.

“Saya berharap Al-Zaytun dapat terus berkembang di panggung global. Saya juga berharap akan ada lebih banyak kesempatan untuk menghadirkan dialog dan keterlibatan dari perspektif Kristen di sini,” ujarnya.

Prof. Joshua David Hollmann, dan Crew Podcast IAI AL-AZIS foto bersama

Menjelang akhir wawancara, Prof. Hollmann menyampaikan pesan kepada mahasiswa dan generasi muda yang mengikuti seminar. Ia mendorong mereka untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat, menjalankan panggilan hidup dengan baik, serta melayani sesama.

Selain itu, ia mengaku menikmati berbagai pengalaman sederhana selama berada di Indonesia, mulai dari keramahan masyarakat hingga menikmati secangkir kopi Indonesia yang menurutnya sangat nikmat.

Bagi Prof. Hollmann, Al-Zaytun merupakan tempat yang unik dan berbeda dari berbagai institusi pendidikan yang pernah ia kunjungi sebelumnya.

“Al-Zaytun sangat unik. Saya belum pernah mengunjungi tempat seperti ini sebelumnya. Ini merupakan pengalaman yang benar-benar baru dan sangat berkesan bagi saya,” pungkasnya.

Kehadiran Prof. Joshua David Hollmann dalam Seminar Internasional “Theology and Popular Culture” menjadi salah satu momentum penting dalam memperkuat dialog lintas agama, memperluas jejaring akademik internasional, serta meneguhkan komitmen IAI AL-AZIS untuk membangun peradaban yang inklusif, toleran, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan universal. Redaksi

Posting Komentar untuk "Prof. Joshua David Hollmann: Al-Zaytun Menjadi Ruang Dialog Lintas Agama yang Menginspirasi "